Cara Merawat, Dijemur tanpa Terpapar Matahari #Cara #Merawat #Dijemur #tanpa #Terpapar #Matahari

Cara Merawat, Dijemur tanpa Terpapar Matahari

Yuniati Nasida, 32, mengerjakan usaha kerajinan makrame dan rajutan setelah diajari kakak dan melihat video di youtube. Semakin banyak motif, semakin lama pengerjaannya. 

SEHARI-hari, aktivitas Yuniati Nasida tidak berbeda dengan ibu tempat tinggal tangga lainnya. Di sela-sela kesibukannya mengurus suami dan anak, dia menekuni usaha kerajinan makrame dan rajutan sejak 2013. Keahlian membuat kerajinan tersebut dipelajari secara otodidak.

‘’Kebetulan kakak saya menjabat sebagai kepala dusun. Setiap ikut pelatihan, beliau selalu membagikan ilmunya kepada saya. Saya juga belajar secara otodidak lihat video-video di youtube. Soalnya kakak saya cuma mengajari teknik-teknik dasar,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (18/1).

Butuh waktu seminggu bagi Yuni, sapaan akrabnya, agar bisa membuat kerajinan makrame. Saat mengantar sang anak sekolah, dia kerap membawa bahan tali kur untuk mengasah kemampuannya. Ternyata, banyak orang tua anak-anak lainnya yang tertarik ingin belajar membuat makrame pula.

‘’Dari situ mulai ada yang langsung pesan ke saya. Soalnya malas kalau bikin sendiri,’’ ujarnya.

Banyak konsumen yang memesan produk makrame berupa dompet, tas, dan sandal. Yuni menuturkan, proses pembuatan produk apapun diawali dari bagian atas dulu. Kemudian lanjut membuat alas untuk penutupnya. Selama produk dompet dengan satu warna, biasanya membutuhkan satu gulung benang. Sedangkan pembuatan tas membutuhkan empat gulung benang. Semakin banyak motif atau warna yang diminta, maka kebutuhan benangnya semakin banyak.

‘’Misalnya empat warna, ya butuh empat gulung benangnya. Tali kurnya perlu dipotong dulu sesuai ukuran. Karena kita akan merangkai satu benang dengan benang lainnya. Kalau produk rajutan nggak perlu dipotong benangnya, karena langsung dianyam. Kira-kira dompet butuh 1,5 meter benang, sedangkan tas empat meter,’’ tuturnya.

Wanita 32 tahun ini merasa proses tersulit dari membuat kerajinan makrame adalah mengerjakan bagian alas. Selama membuat produk dompet, Yuni membutuhkan waktu dua jam. Sedangkan tas, bisa memakan waktu hingga tiga hari.

‘’Intinya menyesuaikan tingkat kesulitan motif. Kalau hanya sekedar motif dasar yang simple, ya cepat bikinnya. Motif tersulit itu bikin mawar timbul. Pernah ada orang bule yang pesen motif itu. Selama ukuran 20 × 20 cm (sentimeter), harganya bisa sampai Rp 300 ribu. Bikinnya sampai tangan terasa melepuh. Karena tali kur agak panas,’’ ungkapnya.

Pada 2018, Yuni mencoba belajar teknik rajutan. Menurut dia, proses merajut dan membuat makrame tidak sama.

‘’Makrame itu menganyam dan menyimpul benang pakai tangan. Kalau rajut, kita perlu bantuan alat hakpen untuk menyatukan benang. Sebenarnya lebih enak rajut, benangnya nggak usah dipotong. Tapi, teknik makrame bisa membuat kita mengkreasikan produk tanpa batas,’’ terangnya.

Cara merawat produk makrame dan rajutan terhitung mudah. Jika kotor, maka cukup direndam intens air deterjen tanpa disikat agar tidak rusak. Kemudian dijemur tanpa terpapar matahari langsung. 

‘’Kalau bahannya pakai tali kur atau benang yang murah, pasti akan lemas dan luntur warnanya. Sedangkan kalau bahannya bagus, tanpa ditambah inner busa produknya sudah bisa berdiri kukuh,’’ imbuh Yuni. 

Produk makrame dan rajutan buatannya juga sering dipajang di pameran tingkat kabupaten. 

‘’Kalau di pameran, barangnya minta ready banyak dan harganya harus miring,’’ tutur perajin asal Desa Girik, Kecamatan Ngimbang ini.

Ke depan, Yuni ingin produksi kerajinan makrame dan rajutan bisa berjalan beriringan. Supaya dia tidak hanya condong di satu produk tertentu.

#Cara #Merawat #Dijemur #tanpa #Terpapar #Matahari