Dilaporkan ke Polda Jatim, Bos Baru MCP Jadi Tersangka. Begini Persoalannya! #Dilaporkan #Polda #Jatim #Bos #Baru #MCP #Jadi #Tersangka #Begini #Persoalannya

Dilaporkan ke Polda Jatim, Bos Baru MCP Jadi Tersangka. Begini Persoalannya!

MALANG KOTA– Sengkarut di jajaran manajemen pengelola Malang City Point (MCP) kian rumit saja. Belum kelar urusan hak 300 user atau pembeli kondotel dan apartemen di kompleks MCP, kini Polda Jatim menetapkan bos MCP yang baru, Tarunodjojo Nusa (TN), sebagai tersangka terkait dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan uang.

Penetapan itu tertuang intens Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SPH2HP-4) Direktorat Reserse Kriminal (Reskrim) Polda Jatim tertanggal 5 Januari. Paham surat tersebut disebut Tarunodjojo Nusa adalah Direktur PT Nusa Capital Indonesia (NCI) yang mengakusisi saham PT Graha Mapan Lestari (GML) sebagai tersangka intens sengketa MCP. PT GML adalah pengelola MCP yang berada di Jalan Simpang Dieng Kota Malang.

Kasus ini berawal dari laporan Direktur Utama (Dirut) PT GML yang lama Hendra Sugianto ke Polda Jatim pada 4 Agustus 2020 lalu. Dia melaporkan Tarunodjojo Nusa karena diduga melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan uang user apartemen, kondotel, dan mal MCP selama 7 tahun. ”Saya laporkan dia (TN) karena ada yang tidak beres darinya sejak mengakusisi (MCP) pada 2015 silam,” kata Hendra Sugianto kepada Jawa Pos Radar Malang Minggu siang (16/1).

Saat itu Hendra melepas hampir seluruh saham PT GML kepada Tarunodjojo Nusa. Karena saat itu Hendra kesulitan keuangan untuk membayar bunga pinjaman sebesar Rp 4,6 miliar ke PT BTN. Pada momen inilah Hendra merasa masuk perangkap Tarunodjojo Nusa. Dia terbuai dengan janji Tarunodjojo Nusa yang bakal melunasi bunga sebesar Rp 4,6 miliar ke BTN. Bahkan Tarunodjojo Nusa juga ingin meneruskan pembangunan MCP sampai tuntas. Saat itu Hendra hanya menerima Rp 300 juta.

Saat akuisisi pada 10 Februari 2015, pihak PT BTN diundang langsung Tarunodjojo Nusa untuk menyetujui akusisi saham PT GML. Hanya butuh sehari  saja, pihak BTN menyetujui pengambilalihan saham dari Hendra ke tangan Tarunodjojo Nusa. Tak hanya itu, TN juga menunjuk Direktur PT GML yang baru yakni Jimmy Darwis. ”Yang dibeli (saham) sebesar 75 persen. Secara otomatis saya terbebas dari utang namun ke depannya justru adalah kesengsaraan,” ceritanya.

Kesengsaraan yang dimaksud, ternyata 300 user yang sudah membeli unit apartemen dan kondotel masih mengadu kepadanya. Padahal intens perjanjian, semua beban sudah beralih ke manajemen baru di bawah kendali Tarunodjojo Nusa atau ke Jimmy Darwis .

Aduan itu berupa ketidakjelasan pembangunan unit kondotel dan apartemen. Proses pembangunan yang terbilang mangkrak. Gara-gara akuisisi itu, Hendra merasa tertipu. Karena ternyata dia masih menanggung bunga bank Rp 4,6 miliar ke Bank BTN. Bahkan dia merasa rugi Rp 190 miliar untuk pembangunan MCP. Karena kerugian tersebut lantas membuat Hendra semakin geram dengan Tarunodjojo Nusa yang selalu mengelak jika dimintai laporan keuangan demi menyelamatkan hak para user. Kemarahan Hendra kepada Tarunodjojo Nusa memuncak ketika dari hasil pemeriksaan Polda Jatim menemukan hasil pembayaran para user tiap bulan digelapkan dengan membeli barang mewah. ”Dia membeli jam tangan Rolex, mobil Mercedes-Benz,  Alphard, BMW sampai apartemen baru senilai Rp 500 juta,” kata Hendra sambil menahan rasa kesal.

Yang agak aneh, kenapa kasus ini baru dilaporkan setelah tujuh tahun berlalu. Hendra merasa selama ini ada pihak yang mem-backup Tarunodjojo Nusa. Salah satunya dari oknum kreditur konkuren yakni PT BTN. Karena ketika Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), tak menyinggung sama sekali masalah keuangan. Direktur yang ditunjuk Tarunodjojo Nusa yakni Jimmy Darwis juga tak mau membeberkan laporan keuangan selama 7 tahun. Hendra juga sempat dibentak oleh salah satu pihak PT BTN yang kala itu lebih memihak pada Tarunodjojo Nusa. Uang keuntungan sebesar Rp 1 miliar tiap bulan dari operasional mal juga lari entah ke mana.

Puncak kemarahan Hendra pada November 2021 lalu ketika PT BTN akan mempailitkan PT GML dengan manajemen baru. Alasannya cukup rasional, karena tak mau membayar utang sebesar Rp 190 miliar selama kurun waktu 7 tahun. Namun bukan itu saja, Hendra juga meminta pihak manajemen baru agar mau mempertanggungjawabkan aset yang telah dimiliki user.

Selama memperjelas kasus ini, Jawa Pos Radar Malang mencoba mengkonfirmasi kepada Kabid Humas Polda Jatim Kombes Gatot Repli Handoko. Lewat sambungan telepon, dia menjelaskan memang penetapan tersangka Tarunodjojo Nusa telah benar berdasarkan pemeriksaan oleh penyidik Polda Jatim. Hanya saja, untuk pemeriksaan lanjutan akan diagendakan kembali. ”Kalau sesuai rencana, pekan depan bakal ada pemeriksaan lagi,” katanya.

Gatot juga menjelaskan penetapan status tersangka untuk Tarunodjojo Nusa hanya masalah sengketa MCP. Selama kabar pernah tidaknya menggelapkan uang intens kasus lain, dia masih menampiknya. Beberapa bukti seperti transaksi dari hasil keuntungan MCP memang dikantongi Polda Jatim. Tak hanya itu, beberapa cek kosong sebagai barang bukti juga dikantongi olehnya. ”Intinya kami lakukan penyidikan lagi supaya apa yang ada (kasus) ini jelas masalahnya,” imbuh Gatot.

Sementara itu Koran ini telah mencoba menghubungi Jimmy Darwis di nomor 0852-1119-xxxx, namun baik pesan WhatsApp maupun telpon tidak berbalas. (and/abm)

#Dilaporkan #Polda #Jatim #Bos #Baru #MCP #Jadi #Tersangka #Begini #Persoalannya