Hanya 27,59 Persen yang Kuliah #Hanya #Persen #yang #Kuliah

Hanya 27,59 Persen yang Kuliah

Oleh: Robby Patria*

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi (PT) di Provinsi Kepulauan Riau sebesar 27,59 persen pada tahun 2021. Angka ini di bawah APK PT nasional yang sudah mencapai angka 37 persen lebih. 

APK itu berarti, anak anak di Kepri yang berusia 19-24 tahun hanya 27 persen lebih yang dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah mereka lulus SMA sederajat. Di tahun 2020 jumlah lulusan SMA di Kepri luar siswa SMK mencapai 14.383.  Dari jumlah tersebut jika kita ambil persentase hitungan BPS yang kuliah hanya 3.890 orang lebih. 

Jika dibandingkan dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang sudah mencapai 74,90 persen lebih, maka APK PT Kepri jauh tertinggal. Dibandingkan dengan Sumatera Barat pun kita tertinggal. Sumbar sudah melebihi 44,25 persen. 

Apalagi dibandingkan dengan Singapura yang sudah menembus angka 78 persen lebih. Begitu juga dengan Malaysia di atas 50 persen, dan Korea Selatan mencapai 98 persen lebih.

Rendahnya APK PT ini akan menjadi persoalan soal daya saing sumber daya manusia di Kepri guna menghadapi era revolusi 4.0 dan 5.0, metaverse hingga kumputasi kuantum. Perusahaan terbesar di Amerika seperti Apple, Microsoft, Meta, Amazon, Alfabet setahun terakhir melakukan investasi senilai 280 miliar dolar US untuk meningkatkan kemampuan menyesuaikan kemajuan zaman (The Economist). Jika kita tidak siap menghadapi kemajuan zaman era bigdata saat ini, maka tentu akan jadi penonton saja.

Beruntung Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kepri masih berada di papan atas nasional dan nomor satu di Sumatera. Namun dari tujuh kabupaten kota terjadi ketimpangan yang besar.

Misalnya di Batam IPM sudah mencapai 81,12 sementara di Lingga masih di angka 65,83 di tahun 2021. Anambas 69,23, Karimun 71,70, Bintan 74,57, Natuna 73,09, dan Tanjungpinang 78,93. IPM Kepri di angka 75,79 masih terbaik di Sumatera. 

Ke depan, pekerjaan rumah dari Pemprov Kepri bagaimana memikirkan agar lulusan SMA, SMK dan MA di Kepri pelan pelan meningkat tidak lagi di angka 27 persen. Jika sampai 10 tahun ke depan angka tersebut tidak dapat menembus 50 persen, artinya sumber daya manusia di Kepri akan sulit bersaing dengan SDM dari luar yang sudah banyak kuliah. Kemudian pemerataan kualitas pendidikan dari pelbagai jenjang di seluruh daerah di Kepri.

Karena jika kita melihat 10 nilai terbaik lulusan SMA/SMK, maka 9 berasal dari Batam dan satu dari Tanjungpinang. Sementara SMA di luar Batam dan Tanjungpinang jarang bisa bersaing memuncak perolehan nilai terbaik di Kepri.

Hal menarik yang ramai dibahas saat ini adalah kisah Ghozali yang bisa mendapatkan pemasukan Rp 1,5 miliar dari fotonya yang dijual di Open Sea. Ghozali sudah mendapatkan manfaat besar dari dunia digital melalui Non Fungible Token (NTF).

Tak ada yang menduga, Ghozali yang kuliah di salah satu kampus swasta di Semarang memiliki aset senilai Rp 12 miliar yang berasal dari foto foto selfie yang dia unggah di situs Open Sea tersebut.  

Mark Zuckerberg sebagai pendiri Facebook sudah mempersiapkan perusahaannya Meta Platforms. Karena 10-15 tahun ke depan, kita dari Tanjungpinang bisa main pingpong bersama kawan di Amerika atau di Malaysia. Dunia virtual tak dapat dihindari. Kisah Ghozali menjadi awal bagaimana menikmati cuan dari dunia virtual.

Akibatnya untuk memasuki era tersebut kita harus bersiap siap. Kurikulum pendidikan dan sumber daya manusia harus disiapkan dalam rangka menghadapi era virtual yang tidak lagi bisa dibendung. Ke depan kita akan dihadapkan membeli lahan virtual, belanja di mal virtual, game virtual, kantor virtual, wisata virtual.

Sekarang pun secara nyata, pusat perbelanjaan mulai berkurang pengunjung karena banyak yang belanja dari market place. Tanpa harus ke luar rumah, barang belanja bisa sampai ke konsumen hanya dengan melalui ponsel.

Dan 2022, para guru ada yang melaksanakan tiga kurikulum sekaligus. Yakni kurikulum prototipe, kurikulum K13 dan kurikulum darurat selama masa pandemi. Kurikulum 22 atau digunakan tahun 2022 dianggap penyempurnaan dari K13 untuk mengikuti perkembangan kemajuan zaman yang begitu cepat. 

Perubahan yang cepat itu semuanya sudah ada di depan mata. Bagaimana kita bisa main sepeda di negara lain di dunia dengan menggunakan kacamata augmented reality. Tentu ini menjadi menarik dan menjadi sulit untuk diikuti jika kita tidak menyiapkan sumber daya yang dapat mengikuti era metaverse. Era yang diperkenalkan novelis Neal Stephenson pada novelnya di tahun 1992 yang berjudul Snow Crash. 

Pembangunan SDM adalah kunci bagaimana menciptakan sumber daya yang andal di kemudian hari. Bukan membangun jembatan terpanjang di Indonesia. Jika 27 persen lebih remaja di Kepri yang mampu menikmati pendidikan tinggi, maka pemerintah daerah tak boleh tinggal diam. Lakukan intervensi melalui beasiswa sebanyak banyaknya agar anak anak itu mampu kuliah. 

Membangun manusia yang handal lebih baik daripada membangun gedung gedung bertingkat, jembatan terpanjang di Indonesia. 

Surah Mujadallah ayat 11 mengingatkan pentingnya pendidikan dan menuntut ilmu. “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Pesan penting dari  ayat ini, Allah SWT akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu dibandingkan orang yang tidak mau atau enggan mencari ilmu. Maka sudah selayaknya kita mencari ilmu dunia dan akherat sebanyak banyaknya karena Allah akan angkat derajat orang yang berilmu.

“Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintai ampunan oleh penduduk langit dan bumi, bahkan hingga ikan yang ada di dasar laut.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).


*) Penulis adalah Wakil Ketua ICMI Tanjungpinang

#Hanya #Persen #yang #Kuliah