Kue Keranjang Lampion, Warisan Sejak 1960-an • Radar Jogja #Kue #Keranjang #Lampion #Warisan #Sejak #1960an #Radar #Jogja

Kue Keranjang Lampion, Warisan Sejak 1960-an • Radar Jogja

RADAR JOGJA – Sulistyowati menjadi salah satu pelestari kue keranjang di Jogjakarta. Generasi kedua dari kue keranjang Lampion ini konsisten dengan resep asli. Pencetus pertama adalah orangtuanya yang mengawali produksi pada medio 1960.

Produksi kue berbahan baku tepung ketan dan gula ini hanya sekali dalam setahun. Tepatnya menjelangb tahun baru Tiongkok atau Imlek. Inilah yang membuat kue keranjang Lampion milik Sulistyowati menjadi buruan para pembelinya.

“Kalau di Indonesia kayak lebaran itu, dibagikan ke saudara atau orang dekat. Masing-masing satu, momentum saat Imlek. Juga untuk sembahyangan ke leluhur lah,” jelasnya ditemui di rumah produksinya di Jalan Tukangan Nomor 43, Danurejan, Kota Jogja, Minggu (23/1).

Tahun ini menjadi awal dia memproduksi kue keranjang kembali. Tahun lalu dia sempat berhenti membuat kue bernama Nian Go ini. Penyebabnya adalah pandemi Covid-19. Sepinya pembeli dan juga potensi terpapar virus, membuat Sulistyowati dan keluarganya untuk istirahat terlebih dahulu.

Memasuki Imlek 2022, Sulistyowati memutuskan untuk kembali membuat kue keranjang. Tingginya permintaan dan melandainya pandemi Covid-19, membuat Sulistyowati berani produksi. Melayani para pembeli dari sekitar maupun luar Jogjakarta.

“Permintaan tahun ini berkurang, tahun kemarin tidak bikin karena Covid-19. Sekarang produksi lagi meski jumlahnya tidak sebanyak saat sebelum Covid-19. Produksi sudah dari 15 hari sebelum Imlek sampai Imlek,” katanya.

Walau begitu pelanggan kue keranjang Lampion mulai bermunculan. Rata-rata sudah memesan jauh hari sebelum hari pengambilan. Untuk pesanan mayoritas membeli dalam jumlah banyak. Walau begitu tetap ada pembeli harian dengan jumlah yang lebih sedikit.

Cara membeli ini sudah menjadi tradisi sejak dulu. Sulistyowati menceritakan ada yang membeli 30 hingga 50 kue keranjang. Untuk kemudian dibagikan kepada saudara hingga kepada pegawai.

“Sudah pesan jauh hari, tanggal sekian tinggal ambil. Kalau banyak tidak bisa langsung ambil. Ada yang 20 hari sudah pesan. Biasanya ramainya seminggu sebelum Imlek,” ujarnya.

Berbicara tentang produksi, membuat kue keranjang haruslah sabar. Seluruh adonan dimasak dengan durasi waktu yang sangat lama. Tungku pemasakan tidak dibuka karena akan merusak tekstur kue keranjang.

Sulistyowati menuturkan butuh waktu 3 hari, Mulai dari memasak, mendinginkan hingga akhirnya kue keranjang bisa dijual. Dalam sekali produksi, dia dan karyawannya bisa membuat 200 kue keranjang.

“Resep masih asli dari dulu tapi sekarang apa-apa mahal, semua susah sekarng. Kalau harganya Rp 45 ribu mengikuti harga bahan pokok,” katanya. (dwi)

#Kue #Keranjang #Lampion #Warisan #Sejak #1960an #Radar #Jogja