Yuk Mulai Kenali Toxic Masculinity yang Kerap Terjadi Pada Kaum Adam #Yuk #Mulai #Kenali #Toxic #Masculinity #yang #Kerap #Terjadi #Pada #Kaum #Adam

Yuk Mulai Kenali Toxic Masculinity yang Kerap Terjadi Pada Kaum Adam

pexels.com

Memiliki tekanan terhadap sesuatu memang akan sangat tidak menyenangkan, terlebih tekanan tersebut mengacu pada identitas diri. Sebuah tekanan yang terjadi kepada seseorang bisa mengakibatkan seseorang mengalami krisis kepercayaan diri hingga kesalahan intens menetapkan pola pikir. Kenyataan ini akrab disebut toxic atau racun.

Toksik yang mengacu pada kondisi psikologi seseorang ini memang banyak jenisnya, di antaranya toxic relationship, toxic positivity, hingga toxic beauty standart. Nah, ada loh satu jenis toksik yang masih awam kita ketahui, yakni toxic masculinity. Toksik maskulinitas adalah sebuah tekanan terhadap identitas seorang pria yang mana seringkali diharuskan untuk bersikap seolah mereka tidak punya kelembutan dan keterampilan yang biasanya identik dengan wanita. Toksik maskulinitas ini memiliki beberapa ciri yang bisa kita kenali sebagai berikut.

1. Sungkan menunjukkan emosi sedih, marah, dan mengeluh

pexels.com

Kita mungkin masih ingat sedikit dengan penggalan lirik lagu “Bukan Superman” yang dibawakan oleh grup band The Lucky Laki. Beberapa potong liriknya mengacu pada tekanan bahwa pria harus selalu kuat, tangguh, dan tahan banting. Hal ini bisa dicirikan sebagai ˆtoxic masculinity loh! Mereka yang salah mengartikannya terkadang berlebihan intens menangani perasaan sendiri. Mereka tidak mau terlihat sedih, marah, hingga mengeluh. Hal ini karena  emosi dianggap sebuah kelemahan yang tidak boleh ditunjukkan pria.

2. Cenderung gila hormat, cenderung arogan dan kasar

pexels.com

Para pria yang terlanjur salah megartikan anggapan maskulinitas ini biasanya cenderung gila hormat, arogan dan kasar terhadap orang lain, terutama pasangan wanitanya. Hal ini karena mereka menganggap bahwa pria levelnya selalu di atas wanita yang lemah. Mereka bisa saja bersikap kasar dan gemar memerintah.

3. Menganggap kebiasaan merokok, dan minum itu “jantan”

pexels.com

“Belom ngerokok, bukan laki namanya!”

Anggapan seperti itu bisa jadi mencirikan seseorang teracuni konsep maskulinitas yang salah. Padahal merokok dan minum-minuman keras tidak bisa diidentikan dengan pria maupun wanita. Merokok dan minum juga bukan sebuah gaya hidup yang sehat dan baik untuk pria dan wanita.

4. Terlihat gelagat heteroseksisme dan homofobia

pexels.com

Terlihatnya gelagat heteroseksisme atau perilaku yang menentang keras hubungan sesama jenis ini memang tidak selalu identik dengan toksik maskulinitas, namun, seseorang yang salah kaprah tentagn maskulinitas bisa jadi sangat menentang homofobia.

5. Paling pantang mengerjakan pekerjaan tempat tinggal yang identik dengan wanita

pexels.com

Seorang pria yang keliru tetang konsep masulinitas juga pantang untuk mengerjakan pekerjaan tempat tinggal tangga layaknya seorang wanita, seperti membersihkan tempat tinggal, mencuci, hingga memasak. Mereka menganggap bahwa pekerjaan tersebut hanya diperuntukkan untuk wanita dan pria tidak pantas mengerjakannya. Hal ini tentu salah, karena pekerjaan tempat tinggal sehari-hari bukan hanya menjadi kewajiban salah satu pasangan, melainkan keduanya. Hal ini juga merupakan bagian dari skill bertahan hidup yang amat baik jika dimiliki seorang pria.

6. Seringkali menjadi pemicu munculnya kasus KDRT hingga pelecehan seksual

pexels.com

Toksis maskulinitas ini seringkali menjadi pemicu munculnya permasalahan intens tempat tinggal tangga, seperti cekcok sampai KDRT. Hal ini dikarenakan mereka yang memiliki tekanan maskulinitas ini menganggap bahwa derajat mereka lebih tinggi dari wanita yang lemah dan berhak atas otoritasnya terhadap pasangan. Bahkan parahnya, toksik maskulinitas ini pula kerap menjadi pemicu tindak pelecehan seksual, loh!

7. Terjadi karena pola didik yang salah hingga dewasa

pexels.com

Tekanan terhadap identitas seorang pria yang dikenal dengan istilah toxic masculinity ini dapat berawal dari pola didik yang salah oleh orang tua di masa lalu. Seorang anak pria seirngkali dilarang untuk menangis, marah, dan megeluh. Anak pria juga tidak diajarkan untuk ikut andil mengerjakan pekerjaan tempat tinggal tangga seperti memasak.

Mereka dididik untuk menjadi seseorang yang kuat dan superior. Sementara anak wanita tidak memiliki kebebasan seperti anak pria. Jelas saja, pola piki generasi mudapun tidak akan jauh berkembang seperti yang sebelumnya. Malah akan menimbulkan masalah baru.

Toxic masculinity dapat diperbaiki sejak dini dari cara asuh orang tua yang adil dan tidak terlalu membedakan gender. Ajarkan anak pria untuk tidak malu mengekspresikan emosinya, serta menghormati wanita, dan tidak malu untuk mempelajari skill bertahan hidup dasar seperti memasak.

#Yuk #Mulai #Kenali #Toxic #Masculinity #yang #Kerap #Terjadi #Pada #Kaum #Adam